News NTB

Media NTB

Iklan

Agama Dijadikan Tameng, Anak Jadi Korban, Potret Kelam Lombok Timur

NewsNTB
Senin, 23 Februari 2026
Last Updated 2026-02-23T06:23:59Z
masukkan script iklan disini



 Lagi dan lagi. Lombok Timur kembali dipermalukan oleh rentetan kasus kekerasan seksual yang tak kunjung usai. Daerah yang kerap mengklaim diri religius ini justru berulang kali gagal melindungi anak dan perempuan dari kejahatan paling keji yang bisa dilakukan manusia.

Ironi itu makin telanjang ketika wilayah yang menjadi bagian dari julukan “Pulau Seribu Masjid” justru menyimpan begitu banyak luka sunyi. Di balik tembok rumah, sekolah, bahkan lembaga keagamaan, predator tumbuh subur sementara sistem perlindungan berjalan pincang.


Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) NTB mencatat ratusan kasus kekerasan seksual, dan Lombok Timur menjadi salah satu penyumbang terbesar. Angka-angka ini bukan sekadar laporan tahunan ini adalah bukti kegagalan struktural negara dalam menghadirkan rasa aman bagi warganya yang paling rentan.


Beberapa hari lalu, publik Lombok Timur diguncang kasus menjijikkan yang melibatkan oknum pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Sukamulia. Pelaku diduga melakukan kekerasan seksual terhadap santriwatinya dengan dalih “pembersihan rahim”. Agama dijadikan tameng, pesantren dinodai, dan korban dipaksa menanggung trauma seumur hidup. Ini bukan hanya kejahatan hukum, tapi pengkhianatan moral yang brutal.


Belum selesai amarah publik, kasus lain kembali mencuat. Seorang pelajar perempuan berusia 16 tahun asal Kecamatan Sakra Barat diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh tiga pemuda, salah satunya adalah orang terdekatnya sendiri. Lombok Timur kembali mencatat sejarah kelam korban bertambah, sementara pencegahan tetap tertinggal.


Situasi ini memicu kemarahan serius di kalangan aktivis mahasiswa. Mereka menilai DP3AP2KB dan pemerintah daerah Lombok Timur gagal membaca situasi sebagai kondisi darurat. Perlindungan lemah, edukasi minim, pengawasan longgar. Negara hadir setelah korban jatuh, bukan sebelum kejahatan terjadi.


Jika Lombok Timur terus membiarkan pola ini berulang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi daerah, tetapi masa depan generasi muda. Diam adalah pembiaran. Lamban adalah kekerasan lanjutan. Dan setiap hari tanpa tindakan tegas adalah undangan terbuka bagi pelaku berikutnya di Lombok Timur.


#SuaraKaderHMIKomisariatPITKA

#SuaraMahasiswa

#DaruratKekerasanSeksualLombokTimur

#LindungiAnakDanPerempuan

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl