Kenapa mahasiswa harus Ikut HMI? -->

Advertisement

Kenapa mahasiswa harus Ikut HMI?

Sabtu, 07 Februari 2026



 Di tengah kampus yang kian sibuk mengejar IPK, sertifikat, dan target lulus cepat, mahasiswa sering lupa pada satu peran pentingnya: sebagai subjek perubahan sosial. Di titik inilah organisasi kemahasiswaan, khususnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menemukan relevansinya.


HMI bukan sekadar organisasi ekstra kampus. Ia lahir dari kegelisahan intelektual dan moral para mahasiswa Muslim pada 1947, dengan tujuan jelas: mempertahankan Republik Indonesia dan menegakkan nilai-nilai keislaman. Sejak itu, HMI menjadi ruang kaderisasi yang melatih mahasiswa berpikir kritis, bersikap independen, dan berani mengambil peran di ruang publik.


Mengikuti HMI berarti belajar membaca realitas sosial secara utuh. Kader tidak hanya diajak memahami teori di ruang kelas, tetapi juga diajak turun menganalisis persoalan bangsa: ketimpangan sosial, krisis moral, degradasi demokrasi, hingga tantangan digitalisasi. Diskusi, pelatihan, dan dialektika menjadi menu sehari-hari yang membentuk nalar kritis sekaligus etika keislaman.


Lebih dari itu, HMI mengajarkan kepemimpinan yang berakar pada nilai. Kepemimpinan yang tidak sekadar mengejar jabatan, tetapi bertanggung jawab pada umat dan bangsa. Nilai keislaman dan keindonesiaan dipadukan dalam praktik nyata—mulai dari advokasi kebijakan kampus, gerakan sosial, hingga pengabdian masyarakat.


Di saat banyak organisasi mahasiswa kehilangan arah dan hanya hidup secara administratif, HMI justru menekankan proses pembentukan karakter. Kader dididik untuk tahan banting, terbiasa berbeda pendapat, dan mampu berdiri tegak di tengah tekanan zaman.


Bergabung dengan HMI bukan tentang menjadi “lebih hebat” dari mahasiswa lain, melainkan tentang kesediaan menempa diri: menjadi intelektual yang beriman, kritis namun beretika, serta peka terhadap nasib bangsanya. Di tengah krisis keteladanan dan kepemimpinan hari ini, HMI tetap menawarkan satu hal yang langka ruang belajar menjadi manusia seutuhnya.