Stigma Mahasiswa terhadap HMI: Apa Kabar Mahasiswa? -->

Advertisement

Stigma Mahasiswa terhadap HMI: Apa Kabar Mahasiswa?

Rabu, 18 Februari 2026


 Di tengah dinamika kehidupan kampus hari ini, masih terdapat stigma yang melekat di sebagian mahasiswa terhadap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Stigma tersebut kerap muncul dalam bentuk anggapan bahwa HMI adalah organisasi eksklusif, politis, bahkan dianggap mengganggu stabilitas akademik. Sayangnya, pandangan ini lebih banyak lahir dari prasangka dan minimnya literasi sejarah organisasi mahasiswa, bukan dari pengalaman empiris atau fakta objektif.


HMI sebagai organisasi mahasiswa ekstra kampus telah lama hadir sebagai ruang kaderisasi intelektual, moral, dan kepemimpinan. Namun, di kalangan mahasiswa hari ini terutama generasi baru, di lingkungan kampus HMI sering dipersepsikan hanya dari potongan narasi lama, isu politik praktis, atau cerita turun-temurun yang tidak pernah diuji kebenarannya. Akibatnya, lahir sikap curiga, jarak sosial, bahkan penolakan terbuka terhadap aktivitas HMI di lingkungan akademik.


Stigma ini juga diperparah oleh kultur kampus yang semakin pragmatis. Orientasi mahasiswa yang cenderung fokus pada capaian akademik formal membuat organisasi ekstra kampus dipandang sebagai beban, bukan sebagai ruang pembelajaran alternatif. Dalam konteks ini, HMI kerap disalahpahami sebagai organisasi yang “menarik mahasiswa keluar jalur akademik”, padahal justru banyak kader HMI yang mampu mengintegrasikan prestasi akademik dengan kapasitas kepemimpinan dan kepekaan sosial.


Perlu ditegaskan bahwa keberadaan HMI di kampus bukanlah ancaman bagi kebebasan akademik, melainkan bagian dari ekosistem demokrasi kampus itu sendiri. Diskusi, kajian kritis, dan proses kaderisasi yang dilakukan HMI merupakan praktik pendidikan non-formal yang melengkapi ruang kelas. Kampus tanpa dialektika gagasan dan keberanian berpikir kritis justru berisiko melahirkan lulusan yang pasif dan miskin perspektif sosial.


Stigma terhadap HMI sejatinya mencerminkan persoalan yang lebih besar, yakni krisis dialog dan rendahnya budaya saling memahami di kalangan mahasiswa. Alih-alih membangun ruang diskusi terbuka, sebagian mahasiswa memilih menilai organisasi lain berdasarkan label, bukan gagasan dan kontribusinya. Sikap ini bertentangan dengan semangat akademik yang seharusnya menjunjung rasionalitas, keterbukaan, dan kebebasan berpikir.


HMI akan terus berdiri sebagai ruang pembelajaran, pengabdian, dan kontrol sosial mahasiswa. Bukan untuk menyaingi siapa pun, melainkan untuk memastikan bahwa kampus tetap hidup sebagai ruang intelektual, bukan sekadar pabrik gelar. Menghapus stigma bukan berarti menutup kritik, tetapi membuka dialog yang jujur dan beradab demi masa depan kampus yang lebih demokratis.